Hari Listrik, Lagu Lama Byarpet Listrik

No comment 90 views

listrikPemadaman listrik di Tanah Air ibarat lagu lama yang terus diputar. Bahkan, sebagian wilayah Jakarta pun gelap gulita akibat terbakarnya Gardu Listrik Tegangan Tinggi Cawang dan Kembangan, Jakarta, akhir September silam.
Terdapat 500 industri besar yang terganggu akibat kejadian itu.

Selain kalangan industri, sebagian pelanggan rumah tangga yang bermukim di kawasan Jakarta dan Tangerang pun mengalami pemadaman listrik.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi menyatakan, pemadaman listrik secara bergilir mengganggu kegiatan usaha. Jika kapasitas produksi anjlok, pendapatan perusahaan akan turun dan muncul bahaya pengangguran.

Apalagi, sedikit industri yang menyiapkan pembangkit listrik sendiri, terutama usaha kecil dan menengah.

Secara finansial, Sofjan menyebutkan, kerugian industri tekstil ditaksir Rp 1 triliun dalam sebulan.

Pemadaman listrik kerap melanda sejumlah daerah di Tanah Air. Saat ini masih ada wilayah dengan rasio elektrifikasi di bawah 40 persen, yaitu Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Papua Barat.

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat, rasio elektrifikasi secara nasional tahun 2008 sebesar 65 persen. Direncanakan 2009 rasio elektrifikasi menjadi 66 persen.

Terkait energi domestik, permintaan energi listrik terus meningkat dengan pertumbuhan rata-rata 9 persen per tahun. Kebutuhan listrik selalu melebihi kapasitas terpasang sehingga menimbulkan krisis listrik.

Kebutuhan meningkat

Pengamat kelistrikan Herman Darnel Ibrahim menilai, krisis listrik hingga kini belum teratasi. ”Pertumbuhan ekonomi selalu diikuti peningkatan permintaan listrik. Masalahnya, pertumbuhan beban listrik ini tidak diimbangi penambahan jumlah pembangkit dan sarana untuk memperluas layanan,” ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, kata Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara Fahmi Mochtar, rata-rata pertumbuhan penjualan energi per tahun 6,8 persen. Adapun penambahan kapasitas pembangkit dan anggaran hanya untuk pertumbuhan daya 1,9 persen.

”Kebutuhan listrik diperkirakan meningkat 1.000 megawatt per tahun. Namun, pertumbuhan daya per tahun hanya sekitar 500 MW,” kata Herman, yang juga anggota Dewan Energi Nasional.

Kondisi ini mengakibatkan terjadi defisit dan kepadatan beban listrik. Kejadian pemadaman listrik bergiliran di Jakarta akibat terbakarnya gardu listrik tegangan tinggi, misalnya, menunjukkan terjadi kepadatan daya sehingga beban daya listrik pada gardu rusak tidak bisa dialihkan.

Dengan margin keuntungan PLN yang tipis, perusahaan negara itu kesulitan menambah pembangkit serta meremajakan infrastruktur listrik yang ada. Peningkatan jangkauan layanan pun sulit dilakukan. ”Idealnya, margin keuntungan PLN sekitar 10 persen,” ujar Herman.

Hal ini diperparah oleh krisis ekonomi global yang menyebabkan tidak ada investasi yang masuk dan pertumbuhan kapasitas terhambat. Proyek pembangunan pembangkit listrik dan transmisi oleh swasta pun tersendat. ”PLN harus mencari pinjaman untuk membangun pembangkit,” ujarnya.

Fahmi mengatakan, tantangan utama yang dihadapi dalam penyediaan listrik nasional adalah pertumbuhan konsumsi listrik yang tinggi, kurangnya investasi, dan porsi biaya energi primer atau BBM masih sangat besar. ”Tantangan ke depan adalah bagaimana mengurangi porsi BBM dan meningkatkan porsi energi terbarukan,” ujarnya.

Program 10.000 MW

Saat ini kapasitas pembangkit listrik nasional 30.480 MW dan ditargetkan meningkat jadi 33.000 MW akhir 2009. ”Selain pembangunan pembangkit listrik, pemenuhan pasokan energi listrik domestik dilakukan dengan membangun jaringan transmisi dan distribusi tenaga listrik,” kata Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen ESDM J Purwono.

Untuk memenuhi tingginya permintaan listrik, pemerintah akan membangun pembangkit baru dari program percepatan 10.000 MW tahap I, antara lain PLTU Labuan, Banten, PLTU Rembang, dan PLTU Indramayu. Lalu dilanjutkan program 10.000 MW tahap II dan pengadaan listrik oleh swasta. Kini PLN mencari dana untuk mempercepat realisasinya.

”Dalam memenuhi kebutuhan energi domestik, pemerintah akan memprioritaskan program diversifikasi energi,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Saleh. Salah satunya dengan mengembangkan energi baru terbarukan dan energi alternatif non-BBM lain.

Pada tahun 2005, kapasitas terpasang pembangkit EBT 854 MW dan meningkat jadi 1.064 MW tahun 2008. Tahun 2009, kapasitas terpasang EBT direncanakan 1.210 MW. Pertambahan kapasitas terpasang EBT, terutama dari panas bumi direncanakan 1.192 MW.

Namun, kapasitas terpasang itu hanya sekitar 4 persen dari total potensi panas bumi Indonesia, yang sebesar 27.000 MW.

Herman berpendapat, obat krisis listrik lain adalah meningkatkan margin keuntungan PLN untuk penambahan pembangkit.

Dari sisi regulasi, pengesahan Undang-Undang Kelistrikan membuka peluang swasta ikut membangun infrastruktur listrik di daerah yang selama ini defisit daya. Regulasi itu perlu diikuti aturan pelaksanaannya untuk memberi kepastian hukum.

Jika pasokan meningkat, rakyat tak lagi mengalami pemadaman listrik. Lagu usang pemadaman listrik pun tak lagi mengalun.  (kompas/msg)