Inefisiensi Pabrik Gula Rp 4,2 Triliun

No comment 87 views

Perkebunan-TebuInefisiensi produksi gula nasional dalam setahun mencapai Rp 4,2 triliun, atau setara 600.000 ton gula kristal putih. Inefisiensi terutama terjadi pada pabrik gula yang dipunyai badan usaha milik negara. Hal ini karena lemahnya tata kelola perusahaan gula tersebut.

Produksi gula nasional, kata Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi, seharusnya masih bisa ditingkatkan 600.000-1 juta ton, tanpa harus memperluas areal tanaman tebu.

”Caranya, meningkatkan produksi hablur atau kristal gula per hektar, dan kadar rendemen gula dalam tebu setidaknya sama dengan produksi dan rendemen di PG (pabrik gula) swasta di Lampung,” kata Bayu di sela-sela kunjungan ke PG Sugar Group Company dan PT Gunung Madu Plantation di Lampung, Senin (31/1).

Produksi pabrik gula swasta di Lampung memberi kontribusi 35 persen dari total produksi gula nasional. Tahun 2010, produksi gula nasional 2,39 juta ton. Gula ini dihasilkan dari areal tanaman tebu 433.426 hektar dengan produksi tebu 33,9 juta hektar, rendemen 7,04 persen dan produksi hablur 5,51 ton per hektar.

Dibandingkan 2009, produksi 2010 turun 250.000 ton, rendemen turun 0,79 persen dan produksi hablur turun 0,69 ton per hektar.

Rata-rata produksi hablur nasional jauh dibanding produksi hablur pabrik gula milik Sugar Group Company, yang pada 2010 mencapai 7,19 ton per hektar dan rendemen 7,87 persen. Adapun produksi hablur pabrik gula milik PT GMP 6,77 ton per hektar, dan rendemen 8,00 persen.

Kontribusi pabrik gula swasta bagi produksi gula nasional mencapai 49 persen dan setiap tahun terus meningkat.

Gunamarwan, Servicess Business Finance Manager PT Gunung Madu Plantation mengatakan, rendahnya rendemen dan produksi hablur di Jawa terkait dengan masalah sosial. Banyak tanaman tebu yang tidak dimiliki perusahaan, tetapi milik petani.

”Swasta lebih independen dalam menentukan jenis varietas tebu, kapan tebang tebu awal, pertengahan dan akhir. Ini berbeda dengan pabrik gula milik pemerintah,” ujarnya.

Gunamarwan menjelaskan, produktivitas gula GMP yang dikelola mitra, yakni petani lebih rendah dari yang dikelola perusahaan. Tahun 2009 rendemen tebu petani di PT GMP maksimal 8,3 persen, yang dikelola perusahaan lebih dari 9 persen.

Tata kelola buruk

Menurut Bayu, untuk meningkatkan produksi gula nasional, tanpa menambah areal tanaman tebu, adalah dengan memberi kesempatan yang luas kepada swasta untuk masuk ke industri gula.

”Bukan berarti akan mematikan perusahaan gula milik BUMN. Tetapi sebaliknya, memacu mereka untuk efisien. Karena, bila pabrik gula BUMN kalah efisien dan kadar rendemen serta produksi hablur kalah dengan pabrik gula swasta, petani akan lari ke swasta,” kata Bayu.

Persoalan utama yang dihadapi oleh pabrik gula milik BUMN adalah tata kelola yang kurang baik.

”Dengan mendorong swasta masuk memproduksi gula konsumsi, tata kelola diharapkan bisa lebih baik, lebih disiplin, penyimpangan bisa ditekan, atasan berani mengambil keputusan, dan mau turun ke bawah,” ujar Bayu.

Salah satu indikasi yang menunjukkan lemahnya tata kelola pabrik gula BUMN adalah dari penyerapan kredit revitalisasi pabrik gula. Dari Rp 8,7 triliun dana yang disediakan sejak tahun 2003/2004, yang dimanfaatkan baru Rp 3,2 triliun.

Sumber : kompas