Kenaikan Tarif RS Tingkatkan Kemiskinan

No comment 71 views

GrahaAmertaSurabaya – Rencana kenaikan tarif di lima rumah sakit (RS) milik pemprov bakal menimbulkan gejolak sosial yang sangat besar. Terutama berhubungan de­ngan populasi masyarakat miskin. Kenaikan tarif itu diprediksi bisa meningkatkan jumlah masyarakat dengan status di bawah garis kemiskinan.

”Sebab, salah satu roda penggerak kemiskinan itu adalah intensitas sakit. Itu penyebab orang jadi miskin. Apa pun yang menyangkut pelayanan kese­hatan tidak boleh membebani rakyat,” tegas pengamat sosial Bagong Suyanto kemarin (25/2).

Sebagaimana diberitakan Jawa Pos kemarin, biaya pengobatan di RSUD dr Soetomo Surabaya, RSU Haji Surabaya, RSJ Menur Surabaya, RSU dr Syaiful Anwar Malang, dan RSUD dr Soedono Madiun akan naik per 1 April. Besarnya kenaikan berbeda-beda, bergantung kelas rumah sakit. Di RSUD dr Soetomo, rata-rata biaya pengobatan naik 70 persen.

Untuk 1 April nanti, kenaikan tarif hanya berlaku bagi pasien kelas III. Tarif untuk pasien kelas I, II, dan utama menyusul naik pada Mei mendatang. Namun, rumah sakit menganggap kenaikan tersebut tidak akan mencekik pasien yang benar-benar miskin. ”Asumsinya, golong­an menengah yang kena. Tapi, itu juga jadi masalah. Sebab, yang ter-co­ver hanya yang miskin. Nah, bagaimana dengan yang near poor?” kata Bagong.

Yang dimaksud dengan near poor adalah golong­an yang bukan di bawah garis kemiskinan, tapi dekat dengan kemiskinan. Misalnya, buruh pabrik dan pekerja rendahan. Gaji golongan tersebut memang di atas upah minimum regional (UMR). Namun, tetap saja pas-pasan. Jika jatuh sakit, biaya yang mereka keluarkan otomatis membengkak.

”Pemerintah seharusnya memperhitungkan kemampuan golongan near poor itu. Kalau sakit, mereka bisa tersedot spiral kemiskinan, alias jadi orang miskin baru. Kalau dulu ada ungkapan orang miskin dilarang sakit, sekarang orang menengah pun dilarang sakit,” paparnya.
sumber : Jawapos