Kepercayaan Konsumen Merosot Lagi

No comment 70 views

indeks kepercayaan konsumenKepercayaan konsumen Indonesia yang tergambar dalam Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) kembali menyusut, kendati masih di level optimistis.

Penyebab penurunan optimisme konsumen antara lain adalah kebijakan pemerintah yang menaikkan tarif tol serta harga elpiji ukuran 12 kilogram, serta tarif listrik.

Survei BI menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun 3,5 poin dari 114,3 poin di akhir Agustus, menjadi 110, 8 poin per akhir September 2009.

Hasil survei konsumen BI tak jauh berbeda dengan kesimpulan Survei Konsumen yang dilakukan Danareksa Research Institute (DRI). Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) versi DRI untuk September turun 6,8% dari indeks Agustus, menjadi 87,5 poin. “Ini merupakan level terendah selama lima bulan terakhir,” ujar Direktur Riset Danareksa, Purbaya Yudhi Sadewa, Selasa (6/10).

Purbaya menambahkan, penyebab utama merosotnya kepercayaan konsumen antara lain karena harga barang dan jasa berlari kencang selama masa Lebaran. Kondisi ini menimbulkan kesan bahwa perekonomian Indonesia akan memburuk.

Penyebab lain optimisme masyarakat turun adalah peluang untuk mendapatkan kerja juga menurun. Sebab industri belum juga meningkatkan kapasitas mereka, sehingga belum membutuhkan tambahan tenaga kerja dalam waktu dekat.

Keterbatasan lapangan pekerjaan baru ini juga menyebabkan masyarakat mulai berhemat dan mengurangi konsumsi mereka.

Maklumlah, mereka merasa kemampuan membeli menjadi berkurang seiring dengan penurunan penghasilan. Ini terlihat dari penurunan indeks ekspektasi membeli barang-barang yang tahan lama sebesar 6,3 poin. “Seharusnya ini menjadi peringatan bagi pemerintah. Kalau kondisi seperti sekarang berlarut, rakyat akan terus mengurangi belanja mereka,” kata Purbaya, Kamis (8/10).

Purbaya memprediksi, masyarakat masih sangat sensitif menanggapi naik-turunnya harga, terutama harga bahan pokok. “Karena itu pemerintah harus menjaga stok pangan jangan sampai terjadi kekurangan,” tambahnya.

Survei BI juga menunjukkan, kepercayaan konsumen akan kembali membaik pada tiga bulan mendatang atau akhir tahun. Maklum saat perayaan Natal, Lebaran Haji, maupun tahun baru, masyarakat biasanya mendapatkan penghasilan tambahan.

Namun, konsumen juga memperkirakan tekanan kenaikan harga barang dan jasa masih akan berlangsung hingga tiga bulan mendatang. Selain faktor musiman natal dan tahun baru, kenaikan harga ini bisa terjadi lantaran terhambatnya suplai barang akibat datangnya musim hujan.

Survei juga menunjukkan masyarakat tetap berharap penghasilan mereka pada enam bulan mendatang bisa membaik. Selain itu, kondisi perekonomian juga bisa pulih sehingga tercipta lapangan pekerjaan. Mereka memperkirakan bunga tabungan juga akan terus menyusut, seiring dengan itu perkiraan jumlah tabungan juga akan menyusut hingga enam bulan. (kontan/msg)