Wapres: KA Akan Jadi Angkutan Utama

No comment 47 views

jkBesarnya angka kecelakaan yang melibatkan sepeda motor membuat pemerintah akan membatasi jumlah sepeda motor yang digunakan untuk mudik pada tahun depan. Pemerintah juga akan menjadikan kereta api sebagai alat angkutan utama untuk mudik.

Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengemukakan hal itu di Jakarta, Senin (28/9). Ia menambahkan, pembatasan dalam penggunaan sepeda motor bagi pemudik dimaksudkan untuk mengurangi angka kecelakaan lalu lintas.

Sebelumnya Jusuf Kalla memanggil Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri di rumah dinasnya di Jalan Diponegoro, Jakarta.

Menurut Wapres, sebagaimana dilaporkan Kapolri, sebanyak 60 persen dari kecelakaan yang terjadi melibatkan kendaraan roda dua. ”Oleh karena itu, pada mudik tahun depan, pemerintah akan membatasi penggunaan roda dua. Sebagai gantinya, pemerintah akan meningkatkan penggunaan angkutan umum bagi pemudik, terutama KA,” ujarnya.

728 pemudik tewas

Berdasarkan data Direktorat Lalu Lintas Mabes Polri, yang terkumpul hingga Senin, 728 pemudik tewas akibat kecelakaan lalu lintas sejak H-7 sampai H+7 Lebaran. Artinya, rata-rata 52 orang tewas per hari. Jumlah ini amat besar, bahkan dibandingkan dengan bencana banjir besar di Filipina baru-baru ini yang menewaskan sekitar 140 warga.

Kecelakaan terbesar menimpa pengendara sepeda motor. Lebih memprihatinkan lagi, sebagian besar korban berusia produktif, 16-30 tahun dan 31-50 tahun. Anak-anak (1-15 tahun) juga banyak menjadi korban.

Sebagai contoh, pada 26 September 2009 ada 133 kecelakaan dengan korban tewas 77 orang, 79 orang luka berat, dan 156 orang luka ringan. Dari angka itu, 36 korban berusia anak, 116 korban berusia 16-30 tahun, dan 109 korban berusia 31-50 tahun.

Mudik dengan sepeda motor paling rawan kecelakaan. Bukan hanya karena faktor pengendara motor sembrono dan tak menaati peraturan lalu lintas, tetapi pengendara yang tertib berlalu lintas pun kerap tertabrak kendaraan lain, seperti mobil atau bus.

Saat sudah mengendarai sepeda motor lebih dari empat jam, pengendara mulai kelelahan, sementara ia harus mengemudikan kendaraan yang rata-rata dinaiki tiga orang (plus istri dan anak). Kondisi si pemudik bersepeda motor mulai tak stabil. Tersenggol sedikit saja ia akan terguling lalu jatuh. Jika saat terjatuh ada kendaraan lain, kejadian lebih fatal akan menimpa pengendara sepeda motor dan orang yang dia bonceng.

Bukan hal baru

Kondisi amat banyaknya pemudik tewas pada saat arus mudik atau balik bukan kasus baru. Tahun 2007, polisi mencatat terjadi 1.875 kecelakaan yang menewaskan 798 orang. Setahun kemudian angka kecelakaan turun menjadi 1.368 kasus dengan korban tewas 633 orang. Tahun ini, angka kecelakaan naik sekitar 359 kasus dan jumlah korban tewas bertambah 95 orang.

Direktur Lalu Lintas Mabes Polri Brigjen (Pol) Djoko Susilo beberapa waktu lalu mengatakan, penyebab kecelakaan antara lain pengendara mengantuk dan kelelahan. Hal senada disampaikan Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal di Solo, Minggu lalu. ”(Penyebab) kecelakaan terjadi hampir 70 persen karena (pengemudi) mengantuk dan kelelahan,” ujar Menteri.

Karena kejadian tewasnya ratusan korban di jalan raya terus berulang, sempat muncul pertanyaan apakah pemerintah akan membiarkan hal itu terus berulang?

Bahwa sepeda motor menjadi alat transportasi yang paling banyak mengalami kecelakaan, itu tidak mengherankan karena jumlah sepeda motor yang digunakan untuk mudik juga semakin banyak.

Persoalannya, mudik sudah menjadi tradisi puluhan juta warga Indonesia dan alat transportasi yang paling murah adalah sepeda motor. Itu pula sebabnya setiap tahun jumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor terus meningkat.

Transportasi murah

Masyarakat merindukan alat transportasi yang murah, aman, dan nyaman. KA bisa memenuhi kriteria itu asal ada pembenahan manajemen yang serius meliputi ketersediaan gerbong dan lokomotif, penyediaan gerbong yang nyaman dengan harga terjangkau, infrastruktur jalan kereta yang aman, dan ketepatan waktu sebab angka keterlambatan kedatangan semakin parah tahun ini.

Manajemen PT Kereta Api sebenarnya menawarkan paket menarik, yakni satu sepeda motor, dua orang dewasa, dan dua anak kecil yang dibanderol Rp 297.000 (atau per orang per sepeda motor hanya Rp 60.000) untuk rute Surabaya dan Rp 279.000 untuk Solo.

Penumpang dan sepeda motor bisa turun dalam waktu hampir bersamaan. Sayang paket yang murah, jauh lebih aman dan nyaman daripada mudik naik sepeda motor ini belum banyak dilirik lantaran minim sosialisasi. Berdasarkan data Pusat Kendali PT KA Daop I Jakarta, sepeda motor yang diangkut pada Lebaran ini baru 1.034 unit, kurang dari 10 persen dibandingkan dengan kapasitasnya.

Di luar itu, kemacetan panjang juga menghantui pemudik menuju Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur karena manajemen lalu lintas kurang baik.

Selagi Lebaran 2010 masih sekitar 11 bulan lagi, pemerintah harus berbenah dari sekarang. Berikan hadiah Lebaran terindah bagi masyarakat berupa ketersediaan angkutan yang murah, nyaman, dan aman serta manajemen lalu lintas yang lebih baik. (KOMPAS)