Hasil Uji: Serat Chrysotile dari Atap Fiber Semen yang Hancur Masih di Bawah Ambang Batas

oleh

Penelitian FKM UI simulasikan kondisi gempa, renovasi, dan demolisi pada atap berumur 20 tahun lebih

Depok – Kekhawatiran warga soal bahaya serat asbes saat atap rumah rusak akibat gempa atau renovasi akhirnya diuji. Tim dari Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja FKM UI melakukan penelitian pelepasan serat chrysotile dari atap fiber semen gelombang yang sudah dipakai lebih dari 20 tahun.

Penelitian yang dipimpin Prof. Doni Hikmat Ramdhan, PhD dan Prof. Dr. Sjahrul M. Nasri, MSc ini bertujuan menganalisis kadar pelepasan serat chrysotile saat lembaran atap dihancurkan, serta membandingkannya dengan Nilai Ambang Batas/NAB Permenaker No 5 tahun 2018.

Simulasi di Chamber Kedap
Pengujian dilakukan di dalam chamber akrilik 3x3x3 meter yang kedap. Material uji berupa atap fiber semen gelombang bekas pakai dihancurkan pakai stamper hingga halus. Debunya lalu ditiup blower agar membentuk “awan debu” di dalam ruangan.

Pengambilan sampel udara dilakukan selama 3,5 jam dengan pompa khusus di ketinggian 150 cm dan 100 cm, untuk mensimulasikan saluran pernapasan pekerja. Analisis dilakukan di Laboratorium LPH-K3 Disnaker Prov. DKI Jakarta menggunakan metode NIOSH 7400 dan NIOSH 9002.

Hasil: Masih di Bawah NAB
Hasilnya, konsentrasi serat chrysotile di ketinggian 150 cm tercatat 0.016 ± 0.0035 f/cc, dan di 100 cm sebesar 0.014 ± 0.0010 f/cc. Sementara sampel ambien di luar chamber <0.001 f/cc dan sampel blanko tidak teridentifikasi serat.

Dengan demikian, tingkat konsentrasi yang terlepas ke udara masih berada di bawah NAB Permenaker No 5 tahun 2018.

“Dari hasil pengukuran diketahui bahwa pada kondisi atap fiber semen yang hancur dapat melepaskan serat chrysotile ke udara. Namun demikian, tingkat konsentrasinya masih dalam kadar di bawah nilai ambang batas,” tulis laporan tersebut.

Latar Belakang Kekhawatiran
Atap fiber semen banyak dipakai warga Indonesia karena tahan cuaca dan praktis. Namun produk ini memang mengandung chrysotile, salah satu jenis serat asbes.

Kekhawatiran muncul saat terjadi bencana alam seperti gempa, renovasi, atau demolisi yang membuat atap patah dan seratnya dikhawatirkan terlepas serta terhirup pekerja atau warga. Sebelumnya, studi (Suraya et al 2019) juga melaporkan hubungan kanker paru terkait asbestosis pada pekerja bangunan, meski belum memastikan tingkat konsentrasi pajanan chrysotile.

Kesimpulan
Peneliti menyimpulkan kadar konsentrasi serat chrysotile hasil penghancuran atap fiber semen yang sudah dipakai lebih dari 20 tahun berada di bawah NAB Permenaker No 5 tahun 2018.

Meski begitu, peneliti menekankan pentingnya prosedur aman saat pembongkaran. Penggunaan APD dan manajemen debu tetap perlu diperhatikan agar pajanan tetap minimal.

Catatan : NAB yang dimaksud mengacu pada Permenaker No 5 tahun 2018 tentang Standar Lingkungan Kerja

No More Posts Available.

No more pages to load.