
Oleh: Mukharrom Hadi Kusumo, SH., MH.
Advokat dan Sekretaris Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Jawa Timur (YLPK Jatim)
Penyelenggaraan International Industrial Exhibition INNOPROM 2026 yang akan berlangsung pada 6–9 Juli 2026 di Yekaterinburg, Rusia, menjadi momentum penting bagi penguatan kerja sama industri antara Indonesia dan Rusia. Melalui Kementerian Perindustrian Republik Indonesia yang didukung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Moskow, forum industri terbesar di Rusia dan kawasan Eurasia tersebut akan dimanfaatkan untuk mempercepat penyelesaian dua Memorandum of Understanding (MoU), salah satunya terkait kerja sama penelitian mengenai chrysotile asbestos.
Langkah ini patut diapresiasi karena menunjukkan komitmen Pemerintah Republik Indonesia dalam memperkuat basis penelitian dan pengembangan industri nasional yang hingga saat ini masih bergantung pada penggunaan bahan baku chrysotile asbestos untuk sejumlah produk manufaktur. Penelitian yang dilakukan secara kolaboratif antara Indonesia dan Rusia diharapkan mampu menghasilkan data ilmiah yang komprehensif sebagai dasar penyusunan kebijakan industri yang berkelanjutan.
Dalam perspektif industri, chrysotile asbestos merupakan salah satu bahan baku yang masih digunakan pada berbagai sektor manufaktur. Oleh karena itu, penelitian mendalam mengenai pemanfaatan, pengelolaan, aspek keselamatan, dampak lingkungan, serta pengembangan teknologi penggunaannya menjadi kebutuhan yang sangat penting. Hasil penelitian tersebut nantinya dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan industri nasional yang mempertimbangkan aspek ekonomi, lingkungan, teknis, dan sosial secara seimbang.
Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Jawa Timur (YLPK Jatim) menyambut baik rencana kerja sama penelitian tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan YLPK Jatim terhadap penggunaan produk asbes semen bergelombang di Kota Surabaya pada 7–8 Desember 2024, ditemukan bahwa tingkat ketergantungan masyarakat terhadap produk tersebut masih sangat tinggi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 99 persen responden menyatakan masih membutuhkan produk asbes semen bergelombang. Alasan utama yang mendasari pilihan tersebut antara lain karena dinilai memiliki kekuatan yang baik (81 persen), ringan digunakan (81 persen), mudah diperoleh di pasaran (76 persen), serta memiliki harga yang relatif terjangkau (59 persen).
Temuan tersebut menunjukkan bahwa produk berbahan chrysotile asbestos masih memiliki tingkat penerimaan yang tinggi di masyarakat. Oleh sebab itu, keberadaan penelitian bersama antara Indonesia dan Rusia menjadi sangat relevan untuk menghasilkan kajian ilmiah yang objektif dan berbasis fakta sehingga dapat menjadi landasan bagi pengambilan keputusan di sektor industri.
Dua agenda yang saling mendukung, yaitu inisiatif kerja sama penelitian melalui INNOPROM 2026 dan hasil kajian lapangan YLPK Jatim, menjadi sinyal positif bagi masa depan industri yang memanfaatkan bahan baku chrysotile asbestos di Indonesia. Ke depan, industri asbes nasional diharapkan mampu menjalankan perencanaan pengembangan yang memperhatikan tiga aspek utama, yakni keselamatan lingkungan, kelayakan ekonomi, dan kesiapan teknologi.
Penyelesaian MoU penelitian chrysotile asbestos juga diharapkan dapat menghadirkan informasi yang lebih komprehensif bagi masyarakat. Penelitian yang dilakukan secara terbuka, ilmiah, dan berbasis data akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai karakteristik, pemanfaatan, serta tata kelola chrysotile asbestos dalam konteks industri modern.
Dengan demikian, kerja sama penelitian antara Indonesia dan Rusia melalui momentum INNOPROM 2026 bukan hanya menjadi langkah strategis dalam memperkuat hubungan industri kedua negara, tetapi juga menjadi peluang untuk memperkaya basis pengetahuan ilmiah yang dapat mendukung pembangunan industri nasional yang lebih kompetitif, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas.






